Selasa, 09 Desember 2014

Dia Pria Jepara, Katanya...


Fajar mulai muncul, dengan hawa dingin yang menyelimuti perkampungan ini. Saya dan ibunda tercinta segera bersiap menuju lembaga kursus bahasa asing untuk mendaftar sebagai muridnya. Sebenarnya pendaftaran akan dibuka pukul tujuh, tapi saya dan ibunda saya sudah siap di lokasi sekitar pukul 05.30, sudah terbayang kan bagaimana sepinya tempat itu. Kami memang ingin segera mendaftar, agar bisa kembali ke Jember dengan segara. Ya tempat kursus saya memang berada di luar kota. Di Pare Kediri tepatnya.
Menjadi siswa disana selama bulan-bulan pertama bisa dibilang susah-susah gampang. Saya yang tidak bisa bahasa inggris sama sekali, karena saya membenci pelajaran tersebut sejak jaman SMP, dan sekarang saya harus memakan materi bahasa asing itu di dalam kelas setiap hari full dari pukul 06.30 sampai pukul 12.00, dilanjut pukul 14.00- 16.30. Penat, bosan, pengen rasanya teriak minta pulang, pokoknya tidak ada rasa nyaman. Hanya saja ibunda saya menjadi bahan pertimbangan jika saya menyerah begitu saja.
Menginjak tiga bulan, saya pindah dari kost ke tempat camp. Camp disini mirip dengan asrama. Dengan segala peraturan yang jauh lebih ketat daripada kost, ditambah interaksi di camp dilarang menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah, dan itu cukup membantu saya. Sampai pada akhirnya saya dinyatakan naik menjadi siswa TC, dan pada masa inilah saya mengenal pria asal Jepara itu.
Laki-laki sebaya dengan kulit sawo matang, terlalu matang mungkin, sering menyapa saya ketika istirahat. Saya yang sering menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di tempat parker sepeda bersama rekan-rekan saya, sering meilhat pria itu duduk tak jauh dari kami. Pria yang tidak saya kenal namanya dan baru saya tahu kalau dia juga tercacat sebagai siswa lembaga ini, selalu menunjukkan gaya akrab dan seakan sudah mengenal saya sejak lama. Cukup risih juga awalnya, tapi ya sudahlah saya menganggap sebagai teman baru.
Sapaan rutinnya setiap jam istirahat berlanjut ketika kami tergabung dalam Sunlight Meeting. Agenda mingguan yang mewajibkan siswanya menggunakan pakaian hitam putih dengan acara pembacaan Holy Qur’an, speech, dan resting. Pada suatu kesempatan kami mengemban tugas yang sama di hari yang sama menjadi speaker, dan itu membuat kami menjadi lebih sering bertemu karena harus menjalani gladi bersih sampai hari-H.
Tetap dengan rasa canggung dan aneh kami mengobrol hal yang tidak terlalu penting. Dan setelah selesai acara dia menawarkan untuk sarapan bersama, dengan alasan esok hari sudah masuk bulan Ramadhan. Darisanalah pertemanan kami terjalin.
Pria Jepara yang dijuluki sell expensive oleh salah satu guru kami, memang orangnya sangat cuek. Sampai-sampai dari beberapa cerita, ada beberapa teman wanita yang dia tolak saat mengjak makan bersama. Padahal dia cukup mengenal wanita-wanita tersebut. Meski begitu dia mempunyai loyalitas yang cukup tinggi dengan kawan-kawan sekelompoknya.
Otaknya yang cukup cerdas dan mau membantu saya belajar kapanpun, sampai menemani saya ujian persyaratan sebelum ke Borobudur, cukup membuat saya mengaguminya. Sebenarnya letak rasa kagum saya bukan bertumpu disitu, tapi lebih pada pembawaan dirinya. Laki-laki berkacamata, pecinta buku yang sangat menggilai sosok Pramoedya, menjadi motivator terbesar dan patner saya untuk bertukar pikiran saat menulis. Meski saya tahu, saya tidak cukup mampu menandingi kemampuannya yang sangat mengenal satrawan-sastrawan besar dunia. Tidak heran memang, karena kkawan-kawan nongkrongnya di Jogja semua adalah pecinta buku yang membuat saya  berdecak kagum sekaligus iri. Mereka tidak hanya sekedar ngopi lalu bercerita ngalor ngidul tanpa tujuan seperti kebanyakan pemuda, tapi mereka ngopi sambil bertukar pikiran tentang segala buku yang mereka baca. Dan sebagian besar diantara mereka adalah sangat ahli dalam berbahasa inggris, hingga ada yang sempat dikirim ke luar negeri untuk beberapa waktu menempuh ilmu di Negara Eropa. Hal itu yang membuat saya mau memutuskan untuk diajak berkomitmen.
Semenjak berkomitmen, pria Jepara ini semakin terlihat baik dengan segala perhatian dan perjuangannya. Bahkan ketika saya menyruhnya agar segera menjadi sarjana, dia rela bolak-balik, Yogyakarta-Pati-Semarang-Jepara-Yogyakarta agar penelitiannya cepat selesai. Dan terbukti dia menyelesaikan mulai dari pengajuan judul sampai sidang dalam tempo 3 bulan. Padahal saya dulu meyelesaikan skripsi butuh waktu hampir satu tahun. Terbesit rasa bangga itu sudah pasti, karena saya merasa cukup diperhitungkan.
Pria Jepara cukup pintar untuk membuat saya terharu. Dulu saat di Pare dia rela mengayuh sepeda cukup jauh, hanya untuk mengajak saya ke pinggiran lapangan bola, bukan focus untuk menyaksikan para pemuda menggiring dan menendang bola. Tapi mengenalkan saya pada background senja diantara kami semua.
Setelah kami dinyatakan lulus dari sana, kami kembali ke kota masing-masing dan menjalani hubungan jarak jauh. Beberapa waktu lalu diia mengirimi lukisan hasil karyanya sendiri, yang disana menggambarkan makan malam pertama kami di warung soup yang kami tempuh beberapa menit dengan sepeda kayuh. Lukisan itu dia hadiahkan sebagai kado ulang tahun saya beberapa bulan lalu. Disana terselip beberapa surat yang membuat saya sempat menangis. Dia menuliskan ucapan beserta gambaran rindu yang sangat besar diantara kami.
Pria Jepara yang tidak suka mengumbar hubungan kami di media sosial, membuat saya mengernyitkan dahi untuk membaca beberapa kalimat dalam tulisannya. Bagiamana tidak, dia memposting beberapa tulisan opininya untuk mengomentari segala sesuatu, tapi disana dia juga menyempatkan diri untuk menyelipkan diri saya sabagai tambahan tulisnnya. Meski tidak gamblang menceritakan siapa saya, tapi cukup jelas maknanya bahwa dia mengakui tentang keberadaan saya. Dia cukup piawai dalam menulis karena memang referensi bacaannya cukup banyak, mekski sempat dokter memvonis akan terjadi kebutaan karena ada kerusakan pada retinanya, tapi sampai sekarangpun dia tetep menggilai buku yang mungkin dia beli dua minggu sekali.

Hai, pria Jepara. Bagaimana senjamu hari ini??

 Pria Jepara katanya

Pria Jepara (berkacamata dan berbaju putih) beserta rekan-rekan dan guru saya (mom Yuni) saat di Pare

3 komentar: