Kamis, 19 Desember 2013

Mari Berbagi dengan Taman Bacaan Rumpun Aksara Desa Panti


Berbicara tentang sebuah komunitas, banyak sekali komunitas di kota saya. Beberapa diantaranya telah saya ikuti, akan tetapi semua berkaitan dengan olahraga. 

Sekitar beberapa bulan lalu saya dikenalkan pada sebuah komunitas yang berkaitan dengan masyarakat. Nama komunitas tersebut adalah Taman Bacaan Rumpun Aksara Desa Panti. Saat itu salah seorang sahabat saya yang bernama Agung mengajak saya bergabung dan menjelaskan kegiatan apa saja yang dilakukan. Berdasarkan nama komunitas tersebut tentu kegiatannya dilakukan di desa Panti, Kabupaten Jember.  Namun sayangnya saat itu saya sedang mendapat tugas kampus untuk melaksanakan prektek di salah satu sekolah selama 4 bulan, sehingga dengan terpaksa saya menolak tawaran sahabat saya itu. Komunitas tersebut dapat dilihat disini.

Saya belum sempat berproses  dan menjadi sukarelawan dalam komunitas tersebut. Namun mendengar cerita dan penjelasan sahabat saya, beserta dokumentasi-dokumentasinya, komunitas ini terlihat begitu menyenangkan. Semoga suatu saat saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari mereka. 

Komunitas ini bisa dibilang gaul. Bagaimana tidak, komunitas ini mempunyai segudang  kegiatan. Menurut sahabat saya, komunitas Taman Bacaan Rumpun Aksara Desa Panti merupakan komunitas yang menjadi sarana bermain, belajar, dan rekreasi. Sasaran yang dituju adalah anak-anak dan para remaja di desa Panti yang mayoritas adalah anak-anak dari buruh perkebunan di desa tersebut. Komunitas ini didirikan oleh Lia Salsabila/Yuliatiningsih, Teguh Hadi Wijaya dan Hari Kurniawan.

Kegiatan komunitas ini sangat beragam. Kegiatan pertama adalah mengajarkan banyak ilmu. Mulai dari ilmu yang hanya melatih kognitif anak, sampai dengan ilmu yang melatih psikomotor dan afektif. Hal tersebut dilakukan karena komunitas ini tidak hanya ingin melatih anak sebatas untuk hafalan, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi. Akan tetapi juga melatih bagaimana merespon, menanggapi, menghargai, serta mengasah kemampuan yang ada pada diri masing-masing anak.

 kegiatan belajar

  kegiatan belajar

Kegiatan kedua adalah melakukan kegiatan sosialisasi. Banyak sekali sosialisasi yang dilakukan, salah satunya adalah sosialisasi tentang gigi karena mengajarkan dan menanamkan hidup sehat pada anak-anak sangatlah penting.

Kegiatan lainnya adalah bermain dan berekreasi. Tidak mungkin anak disodori berbagai macam materi tanpa istirahat, tentunya ada kegiatan-kegiatan yang membuat mereka tidak jenuh, sehingga materi-materi yang disampaikan akan mudah dipahami.  Kegiatan tersebut bisa berupa outbond, persami dan lain-lain. Dalam kegiatan tersebut tentu sangatlah membantu untuk mengasah kerjasama dan kreatifitas anak. 
dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

sahabat saya pada acara out bond
 
Komunitas Taman Bacaan Rumpun Aksara Desa Panti ini masih membutuhkan donasi berupa buku-buku untuk menambah koleksi. Selain itu apabila ingin membantu secara finansial untuk dana operasional lembaga juga bisa dilakukan, karena selama ini dana operasional lembaga diambil dari dana pribadi masing-masing pendiri. Yuk mari berbagi, bias menghubungi Yuliatiningsih / Bp. Sholihin di Jalan PB Sudirman RT 02 RW. 01 Dusun Krajan (Utara Lapangan Panti) Desa Panti Kec. Panti Kab. Jember, Kode pos 68153, Hp. 081336802524

http://emakgaoel.blogspot.com/


Rabu, 18 Desember 2013

Mencari Cara Smart


Pagi ini saya berkemas untuk pergi kesuatu tempat, kota Malang lebih tepatnya. Sebenarnya bukan liburan, tapi menghindari acara corat-coret baju seragam SMA usai pengumuman kelulusan. Ya begitulah adanya, saya adalah anak semata wayang dari pasangan suami istri asal Jember. Orang tua saya selalu membatasi kegiatan yang mereka anggap tidak berdampak positif dan saya manut saja.

Selepas SMA saya melanjutkan studi disalah satu universitas di kota saya.  Pada waktu itu saya memilih fakultas ekonomi dan alhamdulillah diterima, sayang bapak ibu tidak mendukung. Terpaksa saya harus mengikuti ujian ulang untuk masuk pada fakultas yang orang tua saya inginkan. Tak lama setelah itu, pengumuman penerimaan mahasiswa baru dipampang dan saya diterima pada fakultas keguruan, atau lebih dikenal dengan FKIP.

Menjadi mahasiswa angkatan 2009 yang tidak terlalu smart dan menjalani kuliah dengan keterpaksaan adalah ujian terbesar kala itu. Melawan rasa malas yang luar biasa dan memahami mata kuliah yang sama sekali tidak dicintai merupakan makanan pokok setiap harinya. Teman-teman saya yang begitu antusias mendengarkan dosen, rajin dan tepat waktu dalam mengerjakan tugas, sangat berbanding terbalik dengan apa yang saya lakukan. Saya lebih senang diberi tugas merangkum buku daripada harus duduk berjam-jam mendengarkan dosen memberikan materi.  Bahkan tugas yang harus dikumpulkan pukul  11 siang, saya mulai mengerjakan pukul 6 pagi.

Hal tersebut tentu berdampak pada indeks prestasi yang saya peroleh. 2,91 adalah IP saya saat semester pertama. Sedih, sebel, marah, semua jadi satu. Teman-teman saya mendapatkan IP diatas 3,5 dan saya mendapatkan hasil jauh dibawah mereka. Meski begitu saya cukup sadar diri mengapa nilai saya hancur.

Semester-semester selanjutnya saya bertindak sedikit smart dengan mencintai apa yang ada di sekitar saya. Mulai dari saya mencintai fakultas, mencintai orang-orang di sekitar saya entah teman-teman ataupun dosen, dan mencintai mata kuliah  yang saya tempuh (meski tidak bisa sepenuhnya). Hasilnya cukup memuaskan, nilai saya membaik meski merangkak perlahan, tapi setidaknya masuk dalam zona aman. 

Masuk pada semester lima, godaan mulai menerpa lagi. Tugas semakin banyak, mata kuliah semakin susah, teman-teman banyak yang mulai mundur, dan saya terpilih menjadi skretaris FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) cabang Jember. Seringnya ada rapat dadakan dan lomba panjat dinding disana sini semakin memperlihatkan saya yang tidak smart dalam membagi waktu. Semua itu lagi-lagi berdampak pada nilai kuliah saya. Meski tetap di atas tiga koma, tapi saya termasuk pimilik nilai terendah. Kemudian saya memutuskan mencari cara smart dengan menghadiri rapat dan lomba seusai saya kuliah.
Peserta lomba panjat dinding

Masuk semester tujuh,saya menempuh mata kuliah PPL. Itu tandanya saya harus mengajar pada sekolah-sekolah yang sudah ditentukan oleh pihak kampus. Saya dan 21 teman lainnya dari berbagai jurusan mendapat tugas untuk mengajar selama empat bulan di salah satu SMK di pusat kota. Banyak sekali suka duka yang saya dapat  selama periode September awal hingga Desember akhir.  Banyak pula pengalaman dan pelajaran yang saya dapat.

Pengalaman pertama, harus beradaptasi dengan memahami lingkungan dan orang-orang baru. Mendapatkan tugas mengajar pada siswa kelas sebelas dengan segala prilaku baik buruknya merupakan keadaan yang harus dihadapi. Pengalaman kedua, persoalan individu maupun kelompok yang berkaitan dengan PPL selalu dirapatkan, dan itu melatih saya untuk menghargai dan menghormati pendapat yang sangat bertolakbelakang dengan apa yang saya pikirkan. Pengalaman ketiga, belajar sabar dalam situasi apapun terlebih menghadapi siswa yang notabene meremehkan materi guru praktek. Semua pengalaman itu menjadikan saya menjadi sedikit smart dibandingkan dengan sebelumnya.
 Rekan saat PPL



Setelah PPL usai saya kembali pada runtinitas sebagai mahasiswa, kali ini saya disibukkan dengan skripsi. Tidak semudah yang dibayangkan, terlebih saya harus memahami materi yang dari awal tidak saya suka. Terbengkalai beberapa bulan sudah pasti, ditambah dengan segudang tekanan yang membuat saya semakin malas untuk menggarap.  Hingga suatu saat, saya mulai berpikir sampai kapan akan menjadi mahasiswa.  Bapak ibu juga sangat mengharapkan saya cepat lulus.

Melawan rasa malas, memahami materi skripsi yang tidak saya cintai, dan bolak-balik ke kampus untuk bimbingan adalah rutinitas baru saya. Cukup membosankan, dan lagi-lagi saya terpaksa mencari cara smart  untuk menanggulangi hal itu. Saya membayangkan senyum bapak ibu ketika saya wisuda nanti dan hal itu cukup ampuh untuk menepis kebosanan yang melanda tiba-tiba.

Semangat saya kembali membara, ditemani sahabat setia saya “Ma’rifatus Zuhlia” saya menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran, mencari materi, dan melakukan penelitian. Saat terjun ke lapangan, saya dibantui oleh banyak kawan, maklum penelitian saya membahas tentang bahasa komunitas. Setelah penelitian saya tuntas dan mendapat acc, tentu saya mengabari semua rekan yang membantu dan tentunya menyampaikan banyak terimakasih pada mereka. Saat itu pula saya mendapatkan semangat yang luar biasa ketika membaca banyak pesan di layar ponsel saya.

Akhirnya perjuangan kuliah saya tidak sia-sia. Senyum yang saya dambakan selama ini berhasil saya lihat dengan begitu nyata. Bahagia luar biasa ketika bapak ibu dengan bangganya berceita tentang saya pada rekan-rekannya.


Kesimpulannya smart bukan berarti mendapat nilai bagus, tapi smart menurut saya adalah mampu mencari cara terbaik untuk melawan ego diri sendiri dalam keadaan apapun demi kebahagiaan orang lain.

http://emakgaoel.blogspot.com/2013/11/lomba-blog-3-challenges-to-win-gadgets.html 

Minggu, 15 Desember 2013

Bercerita tentang Kotaku #JemberIstimewa


Jember adalah salah satu nama kota di wilayah Jawa Timur. Kota yang tidak terlalu besar ini merupakan kota kelahiran saya. Disinilah saya menuntut ilmu dari TK hingga perguruan tinggi. Meski begitu saya tidak terlalu paham tentang sejarah kota ini, karena tidak ada pelajaran dan orang yang menjelaskan secara khusus kepada saya tentang hal tersebut. Akan tetapi  jika dilihat dari bahasa yang digunakan oleh penduduk asli, saya menyimpulkan bahwa Jember merupakan kota pertemuan antara suku Jawa dan Madura. Kesimpulan saya yang ngawur itu ternyata dikuatkan oleh skripsi teman sekelas saya tentang alih kode dan campur kode bahasa Jawa Madura yang digunakan oleh mahasiswa di Kabupaten Jember. Kemudian beberapa waktu lalu saya juga sempat membaca tulisan Mas bro Hakim di blog milik beliau disini.

Membahas  tentang Jember memang tiada habisnya. Kota kecil yang terletak disebelah tenggara pulau Jawa ini memiliki segudang pesona yang memikat. Bagaimana tidak, dari even tahunan BBJ (Bulan Berkunjung ke Jember) yang menampilkan andalannya JFC (Jember Fashion Carnaval), sampai dengan tempat  wisata taman nasional, air terjun, dan beraneka ragam wisata bahari semua tersaji begitu apik di kota ini. Sayang dari sekian pesona yang saya sebutkan, hanya beberapa saja yang dikenal oleh masyarakat luas.

Sahabat saya di ajang JFC tahun 2012 - dokumentasi oleh Inggi Narisma

                                                           Bersama teman-teman menuju air terjun tancak

Mas Della di samping air terjun tancak
Mesih bebrbicara tentang Jember. Kota kecil nan asri ini mempunyai banyak wisata bahari. Salah satu wisata bahari yang cukup dikenal oleh masyarakat luas adalah keindahan pantai Papuma (Pasir Putih Malikan). Pantai pasir putih yang terbentang memanjang, perahu nelayan yang berjajar, pohon-pohon rindang beserta satwa di dalamnya sangat memanjakan mata, luar biasa indah. Namun sebenarnya tidak hanya papuma, (setahu saya) ada enam pantai lagi di kota ini dengan keindahan masing-masing. Diantaranya adalah  pantai Watu Ulo, pantai Puger, pantai Payangan, pantai Nanggelan, pantai Bandealit, dan pantai Rowocangak.

 Pantai Papuma tampak dari atas (gambar dari google)

 Pantai Papuma sore hari (adik dan tante)

Batu besar sebagai ciri khas papuma (dokumentasi pribadi)

 Saya dan Papuma


Membahas tentang pantai Watu Ulo. Pantai Watu Ulo merupakan pantai yang berada tepat disamping pantai papuma. Pantai ini mempunyai ombak yang cukup besar. Konon katanya di pantai ini terdapat batu berkepala ular dan ekornya berada di pantai lain. Untuk menuju ke pantai ini cukup mudah, jarak yang ditempuh hampir sama dengan jarak untuk menuju pantai Papuma. Bedanya setelah sampai di pertigaan menuju pantai Papuma, pengunjung mengambil jalan lurus dengan perkiraan biaya akomodasi sama dengan pantai Papuma yaitu 15ribu rupiah.

Pantai Watu Ulo (gambar dari google)

Selanjutnya pantai yang ada di Kabupaten Jember yaitu pantai Payangan. Pantai Payangan merupakan pantai yang terletak disebelah timur pantai Watu Ulo. Untuk menuju pantai ini membutuhkan waktu satu jam dari pusat kota. Jalur yang ditempuh sama dengan menuju pantai Watu Ulo, hanya saja jika sampai pertigaan pantai Watu Ulo harus berbelok mengikuti panah yang telah ada, sedangkan payangan lurus sampai bertemu dengan kampung nelayan. Ciri khas pasir hitam dan batu-batu besar bahkan ada yang menyerupai tebing menjadi pemandangan yang dapat dinikmati oleh pengunjung.

Sasi (sahabat saya) di pantai Payangan

 Murid-murid saya di atas bebatuan pantai Payangan

Kemudian pantai keempat yang ada di Kabupaten Jember adalah pantai Puger. Pantai Puger merupakan pantai yang terletak di kecamatan Puger. Untuk menuju tempat ini membutuhkan waktu 2 jam dari pusat kota. Ombak yang besar, pasar pelelangan ikan, dan kampung nelayan merupakan pemandangan yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Di seberang pantai ini terdapat daratan bernama Kucur dan pulau Nusa Barong, jika ingin kesana tentu harus membayar biaya tambahan untuk menyeberang.

 Saya dan Tika di pantai Puger

Pantai kelima yang ada di Kabupaten Jember adalah pantai Nanggelan. Pantai Nanggelan merupakan pantai pasir putih yang terletak di perkebunan Blater. Membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan, kemudaian memarkir motor di gubuk yang telah disediakan dan berjalan menaiki dan menuruni bukit. Jika dibayangkan mungkin terkesan susah mencapai tempat ini, tapi semua terbayarkan oleh keindahan luar biasa. Pantai yang serasa milik sendiri ini, menyajikan air tawar dan danau yang dipisahkan oleh pasir pantai. Hijaunya hutan juga semakin memperindah pemandangan yang ada. Pantai Nanggelan ini bersebelahan dengan pantai Rowocangak, hanya saja kedua pantai tersebut dipisahkan oleh gunung yang menjorok ke laut. 

Pantai Nanggelan sore hari - dokumentasi mas Sableng

 
 Danau di pantai Nanggelan - dokumentasi mas Sableng

Bolang (sispala Banyuwangi) di pantai Nanggelan

Saya dan Bolang

Pantai keenam yang ada di Kabupaten Jember adalah pantai Bandealit. Pantai Bandealit merupakan pantai yang terletak di Taman Nasional Meru Betiri. Pantai yang mempunyai ciri khas berombak besar dan berpasir putih ini memiliki dua muara sungai. Untuk mencapai pantai Bandealit disarankan menggunakan kendaraan off road, karena memang jalan yang ditempuh cukup susah dan terjal. Bagi yang tidak memiliki kendaraan off road juga bisa menikmati pemandangan pantai Bandealit, motor yang dibawa bisa menumpang pada truk yang menuju desa Bandealit, tentunya dengan biaya yang tidak murah. Selain itu juga disarankan membawa bekal sendiri dari rumah, karena biaya makan di tempat ini relatif mahal. Meski begitu pantai ini wajib dikunjungi. Adanya Goa Jepang, danau beserta perahu, serta sunrise dan sunset yang indah sekali mempunyai daya pikat tersendiri.

Muara barat pantai Bandealit - dokumentasi Ima

 Pantai Bandealit - dokumentasi Ima 

 
 Goa Jepang - dokumentasi mas Dika

Ombak di pantai Bandealit  - dokumentasi mas Dika

Pantai ketujuh yang ada di Kabupaten Jember adalah pantai Rowocangak. Saya masih belum pernah ke pantai ini. Saya hanya mengetahui pantai ini berpasir hitam dan jalan yang ditempuh hampir sama dengan pantai Nanggelan, hanya saja nanti mengambil arah kanan saat bertemu percabangan jalan setelah sampai di tengah hutan.

 Pantai Rowocangak - dokumentasi Tito

Itulah tujuh pantai yang ada di kota saya #JemberIstimewa. Meski sama-sama laut, namun pemandangan yang berbeda dan suasana yang tentu juga berbeda membuat setiap pantai akan menuliskan cerita tersendiri bagi penikmatnya. 

Demikian sekelumit ulasan tentang Jember dan saya bangga menjadi warga asli kota ini. Jember sangat berharga untuk saya. Selamat ulang tahun kotaku tercinta, semoga semakin baik dan sukses ke depannya, serta menjadi kota #JemberIstimewa.


http://cakoyong.blogspot.com/2013/12/proyek-ngeblog-jemberistimewa.html

Senin, 02 Desember 2013

Tak Serupa Awan

Dear sayang,
Terlepas dari petang yang menggulirkan senja, dari bulir-bulir kerinduan yang menyesap indah pada dinginnya malam, dan gemerlap bintang yang kita saksikan bersama dari tempat yang berbeda, mengertilah ada jiwa yang sedang menunggumu disini  bersama rapalan doa terbaik yang dipanjatkan pada Tuhan.

Untukmu sayangku,
Hari ini akan kuceritakan tentang  rintik hujan yang turun. Sepi, tak ada suara gemercik air yang terinjak kaki yang sedang menari, atau terdengar tawa yang begitu tulus terkembang. Semua diam membisu, bahkan awan yang berkumpul tak bertanya saat titik hujan meninggalkan mereka untuk berpindah pada bumi, karena awan tahu bahwa titik hujan akan menguap dan kembali pada mereka.

Untukmu sayangku tercinta,
Haruskah aku menjadi mereka? Memiliki kesabaran luar biasa seperti awan. Menyaksikan keakrabanmu dengan teman-teman wanita dari kejauhan. Atau membiarkanmu bercengkrama seharian bersama orang-orang yang tak ku kenal. Sedangkan kita kini tengah berjarak dan tak jarang amarah mewarnai detik-detik yang kita lalui. Jika kau menjawab iya, akankah ada jaminan bahwa kau akan setia kembali untukku?

Untukmu sayangku yang sedang kurindukan,
Aku tak pernah meminta lebih darimu. Asal kau selalu setia itu sudah lebih dari cukup. Sungguh aku bahagia denganmu. Andaikan kau ada dihadapanku saat ini, akan kutatap lekat dengan senyuman. Namun sayangnya kau sedang ada disana, masih dipenghujung kota yang berbeda.

Untukmu sayangku,
Aku tak pernah bertanya pada Tuhan mengapa kita dipertemukan, tapi aku yakin bahwa Tuhan telah mempunyai rencana baik dibalik pertemuan, dan semoga itu bukanlah sebuah perpisahan.


Jember, 20 Oktober 2013 01:16