Sabtu, 17 Januari 2015

Penantian "Cinta di Tanah Haram"




Assalamualaikum..

Sudah kenal mbak Nucke Rahma? Kalau belum, mari berkenalan..
Mbak Nucke Rahma adalah penulis skenario yang sangat handal. Sudah 3000 cerita FTV, stripping dan movie writer beliau ciptakan dan semuanya mampu menarik hati masyarakat luas. Diantaranya adalah “Pernikahan Dini” sinetron yang dibintangi oleh artis berbakat Syahrul Gunawan dan Agnes Monica, pernah tayang di RCTI sekitar tahun 2001. Kemudian “Muslimah” yang dibintangi oleh Titi Kamal, lalu “Ta’aruf”, "Taubat", “Si Yoyo”, "Kesucian Prasasti", "Balada Dangdut", dan masih banyak lagi. Saat ini mbak Nucke Rahma segera menerbitkan sebuah novel perdananya  yang berjudul “Cinta di Tanah Haram”. Sudah pasti novel ini sangat keren dan semoga laku keras dipasaran. Amiinn... Salut untuk mbak Nucke :)


https://twitter.com/CintadTnhHaraam 
cover novel Cinta di Tanah Haram



Novel Cinta di Tanah Haram ini membuat rasa penasaran saya mengalir begitu deras. Bagaimana tidak, teka teki dalam otak saya tentang cerita novel ini, tak kunjung terpecahkan. Pada awalnya saya mengetahui novel “Cinta di Tanah Haram” ketika beberapa waktu lalu saya sedang iseng membuka salah satu media sosial sebelah. Disana terdapat beberapa retweet yang menampilkan cover buku “Cinta di Tanah Haram” yang tampil manis di beranda. Saya yang menyukai novel sejak jaman SMP, dan rela berdiri berjam-jam di toko buku untuk membaca separuh cerita novel terbitan baru, tentu saja langsung penasaran.
Rasa penasaran saya bermula dari judul novel tersebut. Kalimat di tanah haram membuat saya mengernyitkan dahi untuk mencari makna yang tersirat, karena di tanah haram menurut analisis saya tentu menunjukkan suatu tempat. Tapi dimanakah tempat yang haram itu? Tempat yang haram dalam arti sebenarnya, atau tempat yang digunakan manusia untuk melakukan hal yang haram? Rasa penasaran saya bertambah, ketika saya juga memperhatikan cover dari novel tersebut. Disana menggambarkan gurun pasir yang luas. Sepintas saya berpikir bahwa gurun pasir itulah tanah haram. Tapi setelah berpikir ulang, sepertinya tidak. Jika gurun pasir adalah tempat haram, mengapa ada dua kelopak bunga cantik tumbuh subur disana? Lalu mengapa kedua bunga bunga itu diikat dengan seutas tali?
Untuk mengobati rasa penasaran itu, saya mencoba membaca postingan-postingan yang (mungkin akan) memberi sedikit pencerahan. Disana saya menemukan beberapa quotes tentang cuplikan cerita novel tersebut.

Khumairah adalah perempuan luar biasa yang siap menghambakan diri ditengah kecerdasan intelektualnya sebagai seorang dokter. Khumairah mengabdikan dirinya untuk cinta. Dijadikannya kesetiaan sebagai pembuktian. Baginya cinta adalah memberi, pengabdian yang tak terbatas dan tak kan pernah terbayar oleh janji

Namun…..

Zidan, suaminya telah berdusta! Entah telah berapa lama ia menyimpan rahasia gelap itu dari Khumairah. Dan yang lebih menyedihkan, fakta itu terungkap saat Khumairah dan suaminya sedang dalam rangkaian ibadah haji.

Ya, Allah. Dosa apa yang ia perbuat hingga Zidan tega mengkhianatinya. Padahal Zidanlah alasannya hidup dan mencinta. Mengapa cinta harus terbagi? Tak cukupkah pengabdiannya selama ini? Tak bisakah cinta setia hanya pada satu hati? Atau begitukah nasib seorang istri, tercampakkan ketika pesona mulai memudar?

Alangkah kejamnya cinta. Ia menorehkan luka setelah memberikan kebahagiaan. Penyerahan dirinya atas cinta diganjar pengkhianatan dan dusta. Khumairah terluka, dia terpasung dalam dusta yang diciptakan suaminya

Bagaimana Khumairah mengobati hatinya yang tersayat pisau bermata dua? Cinta mampu memberinya harapan sekaligus kecewa. Sekuat apapun dia menjaganya, menyemainya, memupuknya, dan memujanya setinggi bintang di langit, Khumairah tetap tak mampu bersaing dengan pesona cinta yang baru. Khumairah menganggap cinta itu abadi dan tak lekang tergerus waktu. Namun ternyata tidak ada kata ‘selamanya’dalam cinta.

Allahuakbar, luar biasa sekali perjuangan Khumairah. Tapi semakin saya membaca quotes-quotes  tersebut, rasa penasaran saya semakin menjadi. Apa penyebab Zidan berselingkuh? Lalu bagaimana dengan Khumaira? Apakah Khumaira tetap mempertahankan keutuhan rumah tangganya atau mengalah demi kebahagiaan sang suami? Masih banyak pertanyaan yang berjubel dalam otak saya.
Dari cuplikan cerita, sepertinya novel ini kental dengan unsur agama. Semoga perjuangan tokoh Khumairah menjadi contoh untuk wanita-wanita yang sudah maupun yang akan menjadi istri, ataupun menjadi bahan perenungan dan pembelajaran untuk orang-orang yang sudah maupun yang akan berkeluarga.


*beberapa quotes novel Cinta di Tanah Haram, subhanallah...





semakin pengeeeeeennnn bacaaaaa...
Sukses untuk mbak Nucke Rahma (yang sudah membuat saya penasaran dengan karya terbarunya) ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar