Sabtu, 17 Januari 2015

Hadiah di Penghujung Tahun



Kami sudah mengenal sejak lama. Tapi hampir dua tahun mengenal, kami tak pernah saling berkirim hadiah, karena memang bagi kami tidak ada moment istimewa untuk dirayakan. Tidak ada perayaan atau apapun yang menjadi alasan untuk mengirim sebuah bingkisan cantik, atau sekedar ucapan selamat dari pencapaian sebuah kesuksesan. Dari kebiasaan itulah kami tidak lagi mensakralkan pesta ulang tahun ataupun perayaan keberhasilan. Bagi kami itu adalah urusan diri kami masing-masing untuk mengucap syukur pada Tuhan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ada beberapa bingkisan mendarat manis dengan selamat di rumah kecil saya. Ibu meletakkannya pada sebuah meja di pojok kamar. Ternyata isinya adalah sebuah lukisan dan sebuah kerudung berwarna ungu. Rupanya saya lupa bahwa hari itu saya sedang ulang tahun. Teman dekat saat saya kuliah dan teman di perantuan, sengaja mengirimkan hadiah-hadiah tersebut sebagai ucapan selamat. Tak beberapa lama, ibu juga memberi beberapa kado berupa tanaman hias. Tentu saja saya bahagia, setidaknya hadiah itu sebagai simbol bahwa meraka mengingat hari special dalam hidup saya.

Penantian "Cinta di Tanah Haram"




Assalamualaikum..

Sudah kenal mbak Nucke Rahma? Kalau belum, mari berkenalan..
Mbak Nucke Rahma adalah penulis skenario yang sangat handal. Sudah 3000 cerita FTV, stripping dan movie writer beliau ciptakan dan semuanya mampu menarik hati masyarakat luas. Diantaranya adalah “Pernikahan Dini” sinetron yang dibintangi oleh artis berbakat Syahrul Gunawan dan Agnes Monica, pernah tayang di RCTI sekitar tahun 2001. Kemudian “Muslimah” yang dibintangi oleh Titi Kamal, lalu “Ta’aruf”, "Taubat", “Si Yoyo”, "Kesucian Prasasti", "Balada Dangdut", dan masih banyak lagi. Saat ini mbak Nucke Rahma segera menerbitkan sebuah novel perdananya  yang berjudul “Cinta di Tanah Haram”. Sudah pasti novel ini sangat keren dan semoga laku keras dipasaran. Amiinn... Salut untuk mbak Nucke :)


https://twitter.com/CintadTnhHaraam 
cover novel Cinta di Tanah Haram

Rabu, 07 Januari 2015

Sedikit Bagian Film Ayat-ayat Cinta


Ayat-ayat Cinta adalah karya Habbiburrahman masuk daftar baca saya yang paling saya suka. Tidak lama setelah membaca novel itu semasa SMA, novel itu diangkat menjadi sebuah film. Meski pada awalnya saya tidak mau melihat, karena takut kecewa seperti sebelum-sebelumnya, yang tidak sesuai harapan ketika saya membandingkan sebuah novel dan film. Seperti Dealova, Heart, dan masih banyak lagi.
Pada saat itu saya memaksakan diri untuk melihat karena Ayah member saya sebuah tiket dan akan mubazir jika tidak digunakan. Memang sempat terselip rasa kecewa, tapi disanalah pemeran Fahri, Fedi Nuril  menghipnotis saya dengan actingnya. Setidaknya itu bisa mengobati kecewa saya atas perbandingan novel dan film yang diputar cepat di otak saya. Itu kali pertama saya mengidolakan actor Indonesia, karena sebelum-sebelumnya saya hanya mengidolakan seorang penulis-penulis yang mampu membuat saya terlena dalam tulisan-tulisannya.

Rabu, 10 Desember 2014

Sepucuk Amplop Coklat



Siang ini tak terlalu terik ketika aku memutuskan untuk memindahkan 3 bungaku dari pot ke taman depan rumah. Memang semenjak pulang dari Pare rasa cintaku pada bunga naik beribu-ribu kali lipat dari pada sebelumnya. Entah apa alasannya, yang jelas tanaman hias yang tertanam dalam pot - pot dengan ukuran yang tidak terlalu besar, menarik minatku dengan begitu luarbiasa. Ada rasa bahagia yang melampaui batas ketika apa yang aku tanam dari bibit kemudian tumbuh dan berbunga. Dan seperti yang sempat aku ceritakan padamu, bahwa nanti aku ingin memiliki peternakan, persawahan, dan perkebunan bunga. Memang terlalu muluk sepertinya, tapi ijinkanlah aku bermimpi dan meraihnya.

Selasa, 09 Desember 2014

Dia Pria Jepara, Katanya...


Fajar mulai muncul, dengan hawa dingin yang menyelimuti perkampungan ini. Saya dan ibunda tercinta segera bersiap menuju lembaga kursus bahasa asing untuk mendaftar sebagai muridnya. Sebenarnya pendaftaran akan dibuka pukul tujuh, tapi saya dan ibunda saya sudah siap di lokasi sekitar pukul 05.30, sudah terbayang kan bagaimana sepinya tempat itu. Kami memang ingin segera mendaftar, agar bisa kembali ke Jember dengan segara. Ya tempat kursus saya memang berada di luar kota. Di Pare Kediri tepatnya.
Menjadi siswa disana selama bulan-bulan pertama bisa dibilang susah-susah gampang. Saya yang tidak bisa bahasa inggris sama sekali, karena saya membenci pelajaran tersebut sejak jaman SMP, dan sekarang saya harus memakan materi bahasa asing itu di dalam kelas setiap hari full dari pukul 06.30 sampai pukul 12.00, dilanjut pukul 14.00- 16.30. Penat, bosan, pengen rasanya teriak minta pulang, pokoknya tidak ada rasa nyaman. Hanya saja ibunda saya menjadi bahan pertimbangan jika saya menyerah begitu saja.