Senin, 19 Agustus 2013

Rahasia Tentangmu


Saat malam di sudut kota yang gemerlap oleh lampu-lampu jalanan, kulihat senyummu terkembang begitu indah di depanku. Dengan tatapan teduh yang masih sama dengan waktu-waktu sebelumnya.

Tak pernah terpikirkan bahwa aku diberi kesempatan oleh sang pemilik bumi untuk mengenalmu. Dan pada suatu masa kita sering menghabiskan waktu dengan bertukar pesan untuk bertukar cerita atau sekedar menyakan kabar. Ketika aku mulai ragu dengan apa yang kujalani, kau selalu siap menampung segala keluh kesah yang kucurahkan. Kemudian kau sulutkan semangat yang mampu mendorongku untuk kembali yakin.

“Apa anda rugi kalau berpikir positif? November sebentar lagi, sabar ya..”

Semangat yang kau tularkan mampu menyihir rasa pesimisku menjadi keyakinan yang luar biasa. Entah apa yang istimewa dari kalimat itu. Tapi itu yang selalu kuingat ketika rasa kantukku mulai menyergap di tengah aku menuangkan pikiranku untuk tugas akhir. 

Mataku terasa sembab mengingat segalanya. Tak terasa pipiku menghangat oleh lelehan air mata yang tak lagi bisa ku bendung. Kau hadir karena aku masih membutuhkannya, membutuhkan semangat untuk menjadi sarjana. Setelah itu mungkin hanya janjimu yang kunantikan tuk mengajakku menginjakkan kaki di mahameru.

Lamunanku buyar ketika sahabatku berbicara dan menutup laptopku yang menampilkan gambarmu sedang tersenyum.

“susah memang mau ngaku kalo dari dari awal kesepakatannya cuma jadi kakak adik” 


Jember, 27 Januari 2013

Sabtu, 20 Juli 2013

Bestfriend

selalu ada cerita disetiap kesempatan :)
semoga selalu ada tawa dan cinta yang tercipta, agar tak pernah merasakan luka dan menetaskan air mata...













Tempat Impian

Inilah surganya Jawa, maha dahsyatnya alam untuk menimbulkan ketenangan dengan menyajikan panorma indah di ketinggian :)






Pelukan Senja

Untukmu yang akan meraih gelar master di kota sebrang

Senja bergulir begitu indah. Aku menikamatinya di pinggir pantai. Duduk menyandar pada tiang kayu. Melihat hamparan laut dengan riakan ombak kecil. Memandangi pipit yang terbang beraturan dibawah rona jingga langit sore. Rinduku membuncah, penantian panjangku untukmu belum juga usai. Setiap hari aku selalu berharap suatu saat kau akan hadir melambaikan tangan di ujung dermaga. Berlari dengan ransel yang kau bawa menuju arahku. Kemudian memeluk erat pada diri yang semakin menua, melihat senyum yang kau kulum saat aku memulai cerita, mendengar suara merdumu yang serupa rapalan doa.
Dua tahun sudah kita berpisah jarak. Hanya saling berkirim surat untuk sekadar menanyakan kabar.

Aku berjalan menyisir pantai. Semilir angin semakin terasa menyejukkan. Di tengah perjalannku, kulihat batang pohon kayu besar tergeletak di
tengah pasir. Tampat favorit kita saat berbagi cerita kala senja. Menyesapkan tawa dan cinta.
Bagimana aku bisa berhenti untuk menunggumu. Sudah terlalu banyak kenangan yang kita ciptakan. Air mataku pu juga sudah terlampau sering menetes dan kau hapuskan. Kirimkan kabar sekali lagi, beri aku secercah harapan untuk tetap menanti.
Sungguh, aku merindukanmu. Cepatlah pulang, tapi jika masih tak ada waktu, maka peluklah aku dari kejauhan sana.

Minggu, 14 Juli 2013

Cerita Sahabat SMA


untuk kalian: Ana, Inggi, Sasi, Hella, Mama 

Dari Jember,
Kulukiskan rindu yang tergambar pada rona jingga kala senja.
Mengenang kalian yang sungguh tak pernah ada habisnya. Menyajikan cerita demi cerita yang terkemas secara indah. Menimbulkan kenangan-kenangan paten yang terpatri dalam lubuk hati.
Apa kabar kalian disana? Rinduku sedang tak terbendung. Membuncah menanti sebuah pertemuan. Bercengkarama menusuk relung-relung jiwa kesepian.

Kita telah berpisah jarak antara satu dengan yang lain. Sebagaimana kita mengamini ketetapan langit tuk membawa kita ke tempat yang berbeda.
Senyum dan tawa kalian tetap disini. menemani disetiap kesendirian yang melanda secara tiba-tiba. Menghapus luka dan air mata yang tak sengaja merembes di sudut mata.

Tahukah kalian, senja telah bergulir, menenggelamkan matahari tuk menciptakan keindahan di ufuk barat. Bersegeralah kembali, sebelum petang menemuiku. Jika tidak, haruskah menunggu awan menjadi biru, menampakkan layang-layang terbang yang terkadang tanpa benang. Ataukah harus menunggu semilir angin  yang membingkai cerita sama. Serupa rapalan doa yang tak sampai karena dosa.
Serupa bait bait suci yang dibacakan. Seperti nada-nada yang dinyanyikan. Dijagad hidup kita yang kelak akan menjadi sejarah. Di temani gemercik hujan yang curahnya tak terbataskan. Menari-nari indah di tanah lapang dan meninggalkan pelangi ketika telah berhenti.
Jika memang seperti itu, maka bersepakatlah kita tuk menjadi rintik yang akan selalu turun dan menenyesap bersama,  yang berjanji tuk selalu setia mencapai bumi tapi tak merambat tuk membekukan hati.