Sabtu, 13 Juli 2013

Terimakasih Telah Memberiku Kesempatan tuk Menjadi Guru Kalian


Untukmu murid-muridku. Kalian adalah satu. Satu diantara berjuta orang yang memberi warna. Satu diantara mereka yang mampu melahirkan kebahagiaan. Saat ini, nanti, dan semoga untuk selamanya. Akan kurindukan senyuman dan canda kalian. Akan kurindukan celoteh kalian yang mampu memecahkan tawa.  Dan akan kurindukan sebutan “IBU” untukku. Andai aku bisa memilih, andai tak ada tuntutan tuk menggapai cita, andai aku mudah tuk meraih mimpi, kuingin tetap disini, berbagi dan saling mengisi.
Untukmu murid-muridku. Maaf jika keberdaanku tak berkenan, maaf jika pernah ada kata yang melukai, maaf jika semua tak seperti yang kalian harapkan, ketika dikelas ataupun saat menjaga kalian ujian. Sungguh tak pernah sedikitpun inginku tuk mengecewakan. Sungguh tak sedikitpun inginku membuat kalian terluka. Aku menyayangi kalian dalam diam, aku merindukan kalian disetiap malam.
Terimakasih telah bersedia duduk berjam-jam mendengarkan meski sangat membosankan. Terimakasih telah membuatku bahagia. Terimakasih untuk senyum, airmata, dan segala kenangan yang kalian berikan. Terimakasih telah menggoreskan cerita dilembaran hidupku. Dan terimakasih atas kesmpatan yang kalian berikan tuk menjadikanku seorang  guru.

“I MISS YOU XI Broadcasting dan XI Multimedia” ^^

Selasa, 09 Juli 2013

Brother

Entah bagaimana patutnya aku menyebut seseorang yang umurnya terpaut setahun di atasku. Aku tak pernah punya cukup kata untuk menggambarkan orang yang telah kukenal sejak kecil dulu. Namun otakku cukup piawai melukiskan bagaimana detail rupa pahatan sang pencipta.
Tak jarang ia membuatku mengerutkan dahi saat membaca pesan-pesannya, mungkin ia juga begitu ketika membaca pesan-pesanku yang kadang tak jelas. Tapi hal itu tak mampu menggodaku untuk berselingkuh membagi cerita dengan yang lain. Dia bernilai lebih di mataku, seberapa besar lebihnya jangan ditanya. Cukuplah tahu bahwa dia adalah seseorang yang istimewa.
Aku selalu bangga ketika banyak orang mengaguminya. Betapa beruntungnya aku mengenal dan menjadi adik tak resmi, dengan berbagi cerita panjang lebar dan ia senantiasa sabar untuk mendengarkan. Bahkan tak bosan ia memberiku semangat untuk mengerjakan skripsi agar aku segera bermuara untuk wisuda. Semoga November nanti aku bisa mengganti status mahasiswa menjadi seorang sarjana seperti dirinya.
Aku turut bahagia, ketika ia menceritakan banyak peristiwa yang ia lalui dengan suka cita. Ingin ku katakan bahwa ia selalu baru dalam ingatanku, sehingga api semangat yang ia tularkan selalu berkobar dan mampu berkawan baik dengan tekatku untuk bisa melewati segalanya.
Satu hal yang ia harus tau, atau memang sudah diketahui bahwa kenangan disetiap pesan yang ia kirimkan tak pernah terkelupas dari dinding-dinding peristiwa. Aku tak akan menyibukkan diri untuk mencari tahu mengapa Tuhan mempertemukan kami. Tapi aku percaya bahwa Tuhan punya alasan mengapa kami dipertemukan.

Rabu, 03 Juli 2013

Kalung untuk Ibu (part2)


Gadis itu adalah teman sekamarku. Dia punya banyak cara untuk membahagiakan ibunya. Sedangkan aku masih bingung tentang apa yang harus aku berikan. Ibu pernah bercerita bahwa beliau pernah melihat kalung di pasar. Tapi jangankan untuk membelikan kalung, semua gajiku selalu habis untuk kuliah dan biaya hidup keluargaku. Adikku kini juga sudah duduk dibangku kelas 6 SD dan tak lama lagi akan melanjutkan ke SMP, semakin banyak biaya yang akan dibutuhkan. Sudah lama ku menabung, namun uangnya tak cukup juga. Terlebih lagi untuk membeli kalung yang ibu inginkan. Sebenarnya ibu tidak minta, hanya saja setiap kepasar dan melewati toko emas, beliau selau melirik dan tersenyum saat melihat kalung itu. Hingga akhirnya ku berpikir, ku akan membelikan kalung itu sebagai hadiah ulang tahun ibu kelak.

Uang ditabunganku sepertinya telah cukup. Aku akan segera pulang, sudah 3 bulan ku tak mengunjungi kampungku. Ku rindu ibu dan adikku satu-satunya. Jika ku pulang nanti, aku akan mengajak ibu ke pasar.
-----:-----
Sudah 3jam perjalanan, namun tak kunjung sampai. Ku sudah tidak sabar melihat senyum diwajah ibu yang semakin terlihat tua, ku juga sudah tak sabar mendengar cerita-cerita adikku yang akan beranjak remaja.
Gapura desaku telah tampak, hatiku sedikit tenang karena tak lama lagi ku akan sampai rumah. Namun tiba-tiba perasaanku tak enak, terlebih ku lihat banyak orang yang berjalan menuju rumahku. Dan ternyata benar, semua orang berdatangan. Aku panik melihat kedaan itu dan langsung berlari kedalam rumah. Ternyata ibu telah terbujur kaku. Ibu menjemput ayah tuk mengahadap Tuhan. Aku menangis sejadi-jadinya. Belum sempat aku melihat senyum itu yang biasanya dilakukan ibu untuk menyambut kedatanganku. Belum sempat aku merasakan kembali belaian rindu ibu yang selalu dilakukan setiap aku bermanja dipangkuannya. Belum sempat aku membelikan sebuah kalung yang beliau inginkan dari dulu, dan kini ibu telah pergi meninggalkanku.
Adikku yang dari tadi menahan air mata, memandangku lekat-lekat, ada kesedihan luar biasa yang ia katakan dalam diam. Tubuhnya yang semakin kurus dan pakaiannya yang terlihat lusuh, membuatku semakin tak tega manatap mata sayunya. Aku peluk ia erat-erat. Aku tak ingin kehilangnya. Hanya dia harta paling berharga yang kini ku miliki dan akan aku arungi pahit manis kehidupan bersamanya.

Kamis, 06 Juni 2013

Kalung untuk Ibu (part1)

Kurang lebih 4 tahun yang lalu. Hari itu sangat terik, saat ku tinggalkan rumah yang kondisinya bisa dibilang jauh dari kemewahan. Meninggalkan ibu dan adikku satu-satunya. Aku pergi ke kota yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku. Aku di kota ini karena ibu yang menyuruhku. Beliau bilang aku harus menuntut ilmu tinggi agar nanti bisa hidupku enak.

Ingin kurubah nasib keluargaku yang sering mendapat caci maki dari orang-orang sekitar karena ibu sering berhutang. Padahal mereka tak tahu bahwa ibu berhutang untuk menghidupi kedua anaknya agar tidak kelaparan. Terlebih lagi setelah kepergian ayah yang dipanggil Tuhan saat ku masih duduk dibangku SMP, ibu semakin bekerja keras untuk menghidupi kami.

Awal ku menginjakkan kaki di kota ini, semua terasa asing. Bangunan-bangunan tinggi, rumah-rumah mewah, bising, asap polusi dan udara yang sangat panas, semua berbeda sekali dengan desaku. Namun setelah kurang lebih 3tahun aku hidup disini, semua menjadi biasa saja.

Dulu aku setiap sebulan sekali pulang tuk mengunjungi ibu dan adikku yang baru duduk dibangku Sekolah Dasar. Sekalian memberikan separuh gajiku untuk tambahan biaya hidup mereka. Meski gajiku pas-pasan karena aku hanya bekerja sebagai pelayan toko, namun masih bisa jika ku gunakan untuk biaya kuliah. Nilai kuliahku yang dibilang cukup memuaskan, tak menjamin ku terpilih menjadi orang yang layak untuk menerima beasiswa.

Sekitar setahun yang lalu, aku mulai jarang pulang. Tugas kuliahku menumpuk dan aku harus bekerja lembur untuk mencari gaji tambahan yang nanti ku gunakan untuk membelikan sebuah kalung. Kadang tersirat rasa iri pada teman-temanku, khususnya teman sekamarku. Dia terlihat sangat bahagia dengan segala kemewahan yang dia miliki. Aku mengenalnya sejak aku pindah kos  ketempat ini. Dia wanita yang cukup manis dan cukup sibuk dengan segala aktifitasnya. Dia wanita yang memiliki pasangan dan bisa dibilang cukup cerdas. Dia baik sekali, sering membantuku dan memberikan motivasi, dan kami saling bertukar cerita. Namun kehidupan kami berbeda. Bagiku dia cukup sempurna dalam segalanya, termasuk pintar membahagiakan ibunya.

Saya dan Lumba-lumba

Dolphin atau orang Indonesia menyebutnya lumba-lumba, adalah hewan yang paling saya suka. Saya sendiri tidak terlalu ingat kapan tepatnya mulai menyukai hewan pintar ini.  Seingat saya, saya sudah menaruh hati pada hewan lumba-lumba sejak taman kanak-kanak, ya anggap saja cinta tak tergantikan, tapi bukan berarti saya tidak normal. Saya mencintai lumba-lumba layaknya manusia yang mencintai hewan peliharaannya.
Saya mengenal nama lumba-lumba sejak ada pertunjukkan di kota saya, kota Jember lebih tepatnya. Saya diantar ayah, pergi beserta teman-teman dan guru-guru TK saya untuk melihat pertunjukan itu. Saya ingat saat itu saya hanya bisa mengahafal penjumlahan, dan ekstrimnya lumba-lumba yang saya tonton sedang memainkan angka, tidak hanya penjumlahan tapi juga perkalian (lebih pintar lumba-lumba daripada saya).
Namun tak bisa dipungkiri, kecerdasan hewan mamalia itu membuat saya kagum dan menjatuhkan hati. Anehnya setelah pulang kerumah, saya malah mempunyai keinginan untuk memliihara,  tapi mau dipelihara dimana?? Jadi saya putuskan untuk mengagumi tanpa memiliki
Lambat laun, saya mulai lupa tentang hewan kesayangan saya. Hingga saya beranjak menjadi remaja SMA.  Saya ingat saat itu saya baru memecah celengan untuk membeli handphone baru, dan kebetulan teman saya menjual gantungan ‘HP’ yang terbuat dari kain flanel. Pada saat itu saya ingin membeli gantungan berbentuk hati berwarna hitam, sepertinya lucu jika dipasang pada handphone saya. Akan tetapi saya tidak membeli itu melainkan menjatuhkan pilihan pada yang kedua, yaitu berbentuk ikan berwarna merah marun. Kebetulan merah marun merupakan warna favorit saya sejak SMP. Setelah saya membeli dan memasangkan pada handphone saya, saat itulah saya kembali mencintai lumba-lumba.
Pada ulang tahun yang ke 17 saya mendapatkankan kado boneka lumba-lumba dari sahabat saya bernama "Inggie Narisma". Kemudian sahabat saya SMP yang kebetulan juga bernama Inggi, memberikan hadiah lumba-lumba saat akan pindah ke kota Surabaya untuk melanjutkan kuliah. Lalu saat saya berusia 19 tahun, saya juga mendapat kejutan dari seseorang yang menjabat sebagai pasangan saya pada saat itu, memberikan boneka lumba-lumba berukuran besar, dan banyak lagi teman-teman saya yang memberikan kado boneka lumba-lumba, dan anehnya semua berwarna pink.
Kini barang saya mulai dua boneka besar yang menemani saya tidur, gantungan handphone, gantungan kunci rumah, gantungan kunci motor, gantungan flasdisk, gantungan tas, dan sebagainya, semua berbentuk lumba-lumba. Ya bisa dibilang lumba-lumba menemani kapanpun dan dimanapun saya berada.
Namun, dari sekian barang saya yang berbentuk lumba-lumba, ada satu "lumba-lumba" yang paling saya sayangi. Mungkin karena peristiwa mendapatkannya sangat mengharukan. Saat itu semua teman seangkatan sedang sibuk dengan urusan masing-masing, skripsi lebih tepatnya dan saya salah satu mahasiswa yang menjalankannya. Ditengah penantian saya menunggu dosen, teman karib saya datang, namanya Miftah Widyan Pangastuti atau lebih akrab dipanggil "Ita’. Dengan ransel dipundak, berpakaian tomboy tapi tetap berhijab dan gaya jalannya yang tidak pernah berubah, dia melemparkan senyum tiada henti saat menghampiri saya. Sumringah kata orang jawa. Setelah tepat berada dihadapan saya, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dolphin berwarna biru berukuran medium. Tapi bukan peristiwanya yang membuat saya terharu, tapi pembicaraannya saat menyerahkan boneka itu. Dia berkata bahwa ketika dia melihat lumba-lumba itu dia ingat saya dan berniat menyerahkan lumba-lumba mungil itu pada saya sejak 2 minggu yang lalu tapi tak pernah bertemu, karena selama 2 minggu saya harus menjaga bapak di Rumah Sakit, bahkan saat teman saya yang kebetulan juga pecinta lumba-lumba ingin memiliki, dia tidak memberikan. Oh God, so sweet. Terimakasih kawan.