Senin, 03 Juni 2013

Sedikit Bayangan tentang Setiap Pertemuan

Kau adalah seseorang yang hadir secara tiba-tiba. Setelah pertemuan itu, pertemuan pertama dimana kita saling menyapa dengan senyum. Dimana kita saat itu telah berpasangan dengan yang lain. Hingga kita saling mengenal, namun berselimut diam. Sungguh tak pernah terpikirkan olehku bahwa kita melanjutkan perkenalan menjadi sebuah cinta.
Apakah kau tau, jika aku cinta aku sanggup menunggu. Dan semoga, jika kau cinta kau tak akan berpaling ke lain wanita.
Denganmu hatiku tak pernah merasa hampa. Bagaimana tidak, dengan gayamu kau mampu menjadi istimewa dengan cara yang berbeda.
Kau selalu membuatku merindu, namun tak kunjung bisa bertemu. Hingga akhirnya aku menganggap pertemuan kita adalah sebuah kado istimewa.
Terkadang aku harus membayar kerinduan itu dengan tangis demi sebuah lega, atau memejamkan mata sejenak tuk merasakan hadirmu disampingku, lalu kau biarkanku berimajinasi apa yang akan kita lakukan kelak. Kemudian kau membiarkanku merasakan paha yang semakin hangat oleh baring kepalamu, dan lagi-lagi kau membebaskanku bercerita sambil membelai halus rambutmu dan kembali mengacaknya.
Aku merasakan kau disini, tetap disampingku. Entah berapa lama, mungkin hingga kau datang ke kotaku suatu saat nanti, atau hanya sebatas kupejamkan mata lalu membukanya.
Semoga kau selalu mampu merasakan rinduku, meski kau berada dikejauhan sana.

SUATU SAAT NANTI, DENGANMU!

Ketika banyak orang merencanakan akan berlibur kemana, maka aku tetap bermimpi disini. Mengamini tempat yang kau bilang sangat luar biasa dan istimewa. Entah berapa lama aku harus mengumpulkan rupiah untuk menuju tempat itu.  Perlu perjuangan dan butuh waktu lama untuk menikmatinya. Terlampau jauh, hingga tak tahu bagaimana aku bisa sampai disana. Terlalu hina rasanya jika harus kutengadahkan tangan meminta pada orang tua. Biar aku cari rupiah sendiri dengan bekerja dan aku akan berlibur ke pulau Lombok berdua denganmu suatu saat nanti, pasti.

Diluar tempat itu, sebenarnya inginku tak terlalu jauh. Jogja saja sudah kuanggap cukup. Dengan menaiki kereta dari Jember, kita menuju kota pendidikan. Bersama-sama menikmati perjalanan dan sampai disana tetap berdua denganmu. Sedikit kubayangkan bagaimana perjalanan kita nanti. Akan ada banyak diam yang terlalu angkuh untuk kusapa. Berjalan beriringan namun tetap dengan pikirannya masing-masing.

--::***::--

Kita akan bersama mencari penginapan tanpa perlu banyak perdebatan. Lalu hanya berdiam diri ditempat bermalam, dengan menikmati rintik hujan atau sekedar saling bertukar cerita. Sesekali kau akan menjawab pertanyaanku, kemudian kau mengakhiri pembicaraan dengan diammmu, setelah itu kita (lagi-lagi) dengan pikirannya masing-masing. Ketika malam tiba, maka kita menikmatinya dengan dua cangkir kopi panas di lesehan pinggir jalan ditemani lampu kota dan ramai kendaraan, mungkin juga diramaikan oleh suara pengamen jalanan yang silih berganti. Setelah merasa semakin larut, kita pulang ke tempat penginapan dengan kau berjalan mendahului dan sesekali menengok kearahku yang berada jauh dibelakang, sedangkanku berpura-pura menikmati jalanan sekitar lalu sesekali menikmati angkuhnya punggungmu yang terus melaju kedepan.

Mungkin kita akan mengahabiskan waktu berhari-hari di kota orang. Tapi entah bagaimana keadaan yang akan menjadi penutup. Apakah sama dengan dua kemungkinan yang kubayangkan. Kau akan mengakhiri liburan dengan mengajakku kesebuah tempat dengan berjalan bergandengan tangan, lalu kau sematkan cincin dijari manisku dan diakhiri ucapan mesra yang selalu kunantikan. Atau akan ada hari suram yang tidak pernah kuamini, namun semakin melekat kuat pada pikiran yang kuingkari, hingga mengusik keterjagaanku. Ada ketakutan yang selama ini kuhindari dengan diam dan bertahan,  dimana kau akan memutuskan untuk berjalan semakin jauh dan aku tak lagi bisa mengahampirinya hingga menjadi gamang dan tangisanku pecah tak bersuara.

Waktu Istimewa

Dua bulan yang lalu, ku lewati jalan ini bersamamu. Menuju suatu tempat dimana kita dapat melihat bintang dan lampu-lampu kota dari ketinggian.
Duduk disampingmu saat itu, aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Mendengar cerita-cerita yang wajar tapi mengasyikkan. Bertukar pikiran tentang segala topik permasalahan. Cukup lama kita berada disana, sembari merasakan angin malam yang semakin lama semakin dingin.
Hari berikutnya, kau datang kembali. Ku pikir kau akan mengajakku menuju tempat yang sama untuk kesekian kalinya. Namun ternyata tidak, kau datang untuk mengajakku mencari sepasang cincin yang salah satu cincin itu kini tersemat di jari manisku.
Bahagia yang luar biasa ku memilikimu. Entah berapa banyak kebahagiaan yang telah kau berikan padaku. Hingga ku meyakini bahwa kau tak pernah menorehkan sedikitpun luka di hatiku.
Hari istimewamu akan tiba. Lagi lagi kita berada di tempat ini. Namun saat itu sedikit berbeda, kau berbicara padaku dengan nada yang tersirat rasa sedih begitu dalam ‘jika hari ulang tahunku tiba, ku ingin kau disini membawakan sebuah lilin untukku’.
Kini hari istimewamu tiba dan ku berdiri di tempat ini sendiri. Menatap bintang yang seakan tak pernah redup cahayanya. Membawa sebuah lilin untuk merayakan ulang tahunmu. Memejamkan mata untuk merasakan kehadiranmu disisiku.
‘Selamat ulang tahun sayang, doaku tak pernah berhenti untukkmu. Semoga kau tenang disana’

Kabar yang Kau Bawa

Aku tak pernah memikirkan tentang hal ini sebelumnya. Mendengar langkah kakimu berjalan gagah, lalu sampai di depan pintu, dan aku melihat kau berdiri tegap diatas lantai bercorak berwarna hijau tua. Kuangkat kepala dan kutemukan wajahmu. Terlihat tawa dan senyummu disana. Terdengar cara menyapamu yang masih sama.

Bicaramu sore itu menjadi hal yang paling kudamba. Kutatap berkali-kali pahatan sang pencipta yang dihadirkan untukku. Kuingat setiap lekuk rupa, berharap tak akan ada yang terlewatkan saat aku menyimpannya dalam memori. Hingga aku tak perlu lagi memeras otakku tuk mencari bayanganmu.

Kau duduk, meletakkan cangkir keramik yang beradu dengan meja kaca. Uap panas dalam kopimu seolah menggambarkan hangatnya kebersamaan kita. Kau genggam kedua tanganku, lalu kita bercerita dan tertawa. Ingin kukatakan tetaplah tinggal disini, namun ku urungkan.

Kita saling bertatap. Ada bayanganku di kedua matamu. Seandainya dapat kutemukan sesuatu pada setiap pancaran. Mungkin akan ada sebuah pengakuan yang kutunggu sekian lama, dan kini masih mengendap pada sudut gelap.

Kita berbagi pada waktu yang begitu sempit. Bersama menikmati indahnya sore. Menyesap pada cerita kehidupan. Menyisakan tetes bulir air yang telah tandas. Akankah kau pergi setelah ini?

Suaramu serupa semilir angin sore, yang membuatku selalu rindu akan hadirnya. Tapi masalahnya apa kau juga merasakan hal yang sama. Setiap pertemuan selalu kutunggu, karena mungkin kau akan membawa kabar gembira. Namun kadang pertemuan juga membuatku takut, takut kau akan pergi setelahnya.

Setiap hari aku berdoa. Meminta pada Tuhan tuk membawaku sebelum kehadiranmu. Mencegah langkahmu sampai bersama rindu yang terlalu, karena aku tak ingin terpanting oleh sebuah harapan. Namun semua terpatahkan akhirnya. Patah oleh sebuah pengakauan.

Inilah yang kunanti, kabar gembira yang kau bawa. Rindu yang akan terbayar.
Kau mengajakku tuk bersanding pada sebuah pelaminan.

Kisah di desa panduman

Sebenarnya tak begitu mengerti bagaimana menceritakan. Menggambarkan peristiwa yang ku alami bersamamu. Entah harus bersedih atau bahagia.

Malam itu aku tak kunjung bisa memejamkan mata. Tugas akhir begitu menyita waktuku. Memikirkan kelulusan pada bulan Juli mendatang membuatku tak bisa terlelap setiap hari menjelang tengah malam. Namun biasanya kuatasi dengan mendengarkan musik lalu rebahan hingga akhirnya tertidur pulas. Tapi tidak untuk malam itu. Beberapa pesanmu  menemaniku.
Awalnya hanya saling berbalas pesan biasa. Namun semakin larut pembicaraan semakin meruncing. Tetap santai menaggapinya, tapi tetap tak bisa ditutupi. Hingga akhirnya saling mengaku apa yang dirasakan.
Tak cukup sampai disitu, kita berlanjut telepon untuk saling mengobati rindu karena telah lama tak berjumpa, dan membuat janji untuk saling bertemu di tempat KKTmu.
Pagi hingga siang ku habiskan waktu bersamamu. Membeli durian lalu memakannya bersama dengan teman-temanku yang kebetulan ikut menemuimu. Tawa terpecah, secercah wajah bahagia terpancar disana.

Aku mengulum senyum melihat bahagiamu. Sudah lama tak kulihat kau sebahagia itu. Sudah lama tak kulihat senyummu begitu terkembang. Sudah lama tak kurasakan duduk berdampingan denganmu. Sudah lama tak kurasakan berboncengan denganmu. Melewati pesawahan yang indah ditemani tawa dan cerita-cerita. Cinta itu masih terasa seperti yang kau sampaikan semalam. Aku pun mengamininya.

Aku cukup bahagia dengan ini. tapi bukan berarti aku akan menjalaninya lagi bersamamu. Cukuplah aku menjadi bagian dihidupmu sebagai masalalu. Kita merasa bahagia karena kita pernah mencinta pada suatu masa. Tapi setelah itu kita akan menjadi biasa, lalu melupa.